-->
..:: Siaran Bola Live : Minggu (13/5), 01.00 WIB —Final Piala Jerman Dortmund Vs Bayern (RCTI) | Minggu (13/5), 01.00 WIB —Liga Spanyol Sociedad Vs Valencia (TV One) | Minggu (13/5), 01.00 WIB —Liga Spanyol Betis Vs Barcelona (TV One) | Minggu (13/5), 21.00 WIB —Liga Inggris Man City Vs QPR (MNC TV) | Minggu (13/5), 21.00 WIB —Liga Inggris Sunderland Vs Man United (Global TV) | Senin (14/5), 01.45 WIB —Liga Italia Lazio Vs Inter Milan (Indosiar) | Senin (13/5), 01.00 WIB —Liga Spanyol Madrid Vs Mallorca (TV One) ::..
|

Tak Pernah Bosan dengan Bakmi Jowo


SIAPA tak kenal bakmi jowo? Hampir semua orang pasti pernah mencicipinya.

Tidak berlebihan rasanya, kalau kita menyebutnya sebagai salah satu kuliner yang paling populer dan legendaris.

Bakmi jowo kerap menjadi pilihan santap malam yang santai, makan malam yang praktis dan cepat, murah meriah namun mengenyangkan, sampai menjadi pilihan ketika kelaparan di tengah malam. Mengapa malam hari?

Kebanyakan rumah makan atau warung bakmi jowo, hanya buka mulai sore hingga malam hari (biasanya hingga tengah malam).

Terutama yang bentuknya warung, yang bisa kita jumpai di hampir seluruh sudut jalan. Kalau Anda memperhatikan, beberapa warung bakmi jowo bahkan terletak berdekatan, atau berada dalam wilayah yang sama.

Bakmi ini juga banyak dijumpai pada pedangang dengan gerobak, atau kita mengenalnya dengan sebutan ‘mie tektek’, yang biasanya beredar di daerah perumahan/ pemukiman warga. Para penjual bakmi jowo keliling ini, biasanya mulai berjualan selepas magrib, hingga dini hari.

Makanya, mereka bisa menjadi ‘penyelamat’ jika tengah malam lapar tiba-tiba datang. Makanan ini boleh dibilang merupakan ‘fast food’ ala Indonesia. Namun menyantap bakmi Jowo asal Semarang berbeda rasanya dengan bakmi jowo dari Jogyakarta, atau dari Solo, yang warna terlihat putih, sementara di Semarang lebih berani menggunakan kecap.

Sangat berbeda dengan yang ada di Surabaya, dimana bahan dasar bakmi lebih besar dan bulat (mirip spaghetti). Makanan ini menjadi pilihan yang barangkali lebih ‘logis’dibandingkan fast food franchise. Karena lebih ‘Jowo’, lebih kenyang, serta jauh lebih murah.

Harga perporsinya, mulai Rp 8 - 10 ribu. Jangan anggap bakmi ini sebagai ‘junk food’, karena yang digunakan, merupakan bahan segar, seperti sayur dan daging (ayam, udang atau sapi), yang baru dimasak ketika kita memesan.

Satu lagi yang membuat menu ini istimewa adalah, kekenyalannya yang berbeda dengan bakmi telur lainnya. Terlihat kenyal dan teksturnya lebih tebal daripada jenis mi lainnya. Belum lagi bumbunya, yang menjadi ciri khas bakmi jowo, rasanya cenderung manis.

Kita bisa memesan dengan bumbu yang super pedas, namun, ia tetap tak meninggalkan cita rasanya yang manis. Di Semarang, tentu saja tak sulit menemukan tempat makan yang menyediakan bakmi jowo.

Kita bisa menikmati bakmi Pak gundul (depan sekolah Theresiana), dan bakmi Boeng John (jalan Karang Wulan Barat I). Selain karena telah berjualan selama kurang lebih duapuluh tahun, rasa dari bakmi jowo yang disajikan sangat istimewa.

Perpaduan gurihnya bumbu dan rasa manisnya berpadu dengan pas. Untuk meningkatkan pelayanan ke pembeli, pelayan dan penjual di warung Bang John dan Pak Gundul, tersebut mengenakan baju (kaos) seragam, dengan tulisan warung bakminya.

Bakmi jowo lainnya yang juga rekomendasi antara lain, bakmi jowo Pak Doel Nomani (jalan Pemuda dan jalan Thamrin), Pak Gareng (jalan Wot Gandul Dalam) dan Pak Gembong (Barito), Pak Rebi (Mugas), Pak Di (Pandean Mataram) serta masih banyak lagi.

Posted by @koranwawasan on Sabtu, Mei 26, 2012. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 comments for "Tak Pernah Bosan dengan Bakmi Jowo"

Leave a reply