Pasalnya, kode yang tercantum pada denah tidak disusun secara berurutan. ”Ada lima jenis paket soal, yakni A,B, C,D, dan E. Dari masing-masing jenis soal itu, diberi kode lagi dengan penanda angka.
Misalnya paket soal 12, 25, 39, 46, dan 54. Bagi pengawas yang belum bepengalaman jaga UN, cukup bingung dengan denah soal,” kata Endang TP, pengawas dari SMP Muhammadiyah 1, kemarin.
Guru pengawas yang berjaga di SMPN 5 ini mengatakan, aturan denah pembagian soal ini baru dilaksanakan pada UN tahun ini. Pembagian soal didasarkan pada denah yang terdapat dalam amplop soal UN, memungkinkan tiap hari cara pembagiannya berbeda.
Bisa saja satu anak akan mendapat paket soal yang berbeda dalam hari yang berbeda. Semisal hari pertama mendapatkan paket 1, hari kedua mendapat paket 2, dan seterusnya.
Harus Memandu
Banyaknya tipe soal ujian membuat siswa bingung. Guru pengawas harus memandu siswa untuk mengisi formulir lembar jawaban komputer. Endang menambahkan, sistem pengawasan UN tahun ini semakin ketat dengan dimasukkannya identitas guru pengawas.
Dalam lembar jawab, siswa diminta mengisikan identitas guru pengawas yang bertugas. Data identitas itu meliputi nama lengkap, asal sekolah/ unit kerja, dan bertugas di sekolah mana.
Ketua Penyelenggara UN Kota Semarang Soedjono mengatakan, dengan adanya lima jenis soal dan memiliki denah yang berbeda pada setiap mata pelajaran, akan mengurangi kecurangan.
”Jika awalnya susah dan membingungkan butuh penyesuaian . Namun, prinsipnya dalam membagi soal pengawas perlu memperhatikan kode soal dengan denah yang tertulis.”

0 Komentar